VoxLampung.com, Bandar Lampung — Bank Indonesia (BI) menyoroti komoditas pangan musiman, khususnya cabai, sebagai salah satu faktor yang memengaruhi inflasi di Provinsi Lampung. Fluktuasi harga cabai yang sangat bergantung pada kondisi musim kerap menjadi penyumbang gejolak inflasi, terutama pada periode tertentu.
Secara bulanan (month to month), inflasi Lampung pada April 2026 tercatat sebesar 0,55 persen. Kenaikan ini terutama dipicu oleh naiknya harga sejumlah komoditas, seperti minyak goreng, ikan nila, sigaret kretek mesin, beras, dan cabai merah. Dari berbagai komoditas tersebut, cabai menjadi salah satu yang dominan karena sifatnya yang musiman dan sensitif terhadap faktor cuaca.
Sebagai langkah antisipasi, BI Lampung bersama pemangku kepentingan terkait terus mendorong peningkatan produksi cabai melalui berbagai program, termasuk capacity building bagi kelompok tani (poktan), penyuluh lapangan, dan dinas pertanian. Upaya ini diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan sehingga harga cabai tetap terkendali.
“Komoditas pangan seperti cabai dan bawang memang rentan terhadap kondisi musim. Kami melakukan capacity building bersama poktan cabai, penyuluh lapangan, dan dinas pertanian. Ada beberapa insight dari mereka, sehingga kami ingin mendorong peningkatan produksi agar komoditas tersebut stabil,” kata Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI Lampung, Achmad P. Subarkah.
Dalam kesempatan yang sama, BI juga memaparkan kondisi perekonomian Lampung yang tetap solid. Hal itu disampaikan dalam acara Bincang Literasi Bersama Media bertajuk “Perkembangan serta Prospek Ekonomi dan Inflasi Provinsi Lampung” yang berlangsung di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Rabu, 6/5/2026, dengan mengangkat tema World Book Day 2026.
Subarkah mengatakan, perekonomian Lampung pada triwulan I 2026 tumbuh 5,58 persen (year on year/yoy), meningkat dari triwulan sebelumnya sebesar 5,54 persen (yoy). Pertumbuhan ini ditopang oleh lapangan usaha (LU) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan.
Ia menyebutkan, capaian tersebut menempatkan Lampung di peringkat kedua se-Sumatera setelah Kepulauan Riau, dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera sebesar 10,8 persen.
“Jadi lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan ekonomi se-Sumatera,” ujarnya.
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi Lampung didorong oleh sektor pertanian yang tumbuh 9,89 persen (yoy), ditopang oleh puncak panen raya padi dan jagung. Selain itu, sektor perdagangan juga tumbuh kuat sebesar 6,91 persen (yoy), seiring momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Tahun Baru, Imlek, serta Ramadan dan Idulfitri 2026.
Sektor transportasi dan pergudangan, serta konstruksi, juga mencatat pertumbuhan seiring meningkatnya mobilitas wisatawan dan keberlanjutan proyek strategis nasional di Provinsi Lampung.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Lampung ditopang oleh kinerja domestik, terutama konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah yang masing-masing tumbuh 5,54 persen, 4,39 persen, dan 13,84 persen (yoy). Sementara dari sisi eksternal, ekspor Lampung masih tumbuh positif sebesar 0,75 persen (yoy), didukung peningkatan ekspor komoditas pulp, sisa industri makanan, dan bahan kimia organik.
Subarkah menegaskan, sejumlah indikator menunjukkan bahwa kondisi perekonomian Lampung masih solid. Salah satunya tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada pada level optimistis.
“Ada indikator yang menjelaskan bahwa perekonomian Lampung masih solid karena kami tiap bulan melakukan survei konsumen. Hasilnya, indeks keyakinan konsumen berada di angka 120,33, yang artinya optimistis. Ini menunjukkan masyarakat Lampung yakin ke depan perekonomian akan terus positif,” ungkapnya.
Selain itu, survei penjualan juga menunjukkan tren positif, didorong oleh peningkatan penjualan suku cadang serta makanan dan minuman. Pertumbuhan kredit yang tetap positif dan investasi yang terjaga turut memperkuat optimisme tersebut.
BI Lampung juga melakukan wawancara dengan sejumlah perusahaan besar untuk melihat rencana bisnis ke depan.
“Kalau perusahaan besar pesimis biasanya mereka wait and see dan menahan produksi. Namun, kami melihat tahun ini sudah banyak yang mulai mengimpor barang modal,” paparnya.
Di sisi lain, inflasi Lampung tercatat sebagai salah satu yang terendah di Indonesia. Secara tahunan, inflasi berada di angka 0,53 persen (yoy), jauh di bawah inflasi nasional dan menjadi yang terendah di Sumatera.
“Ini kabar baik bahwa kita bisa menjaga inflasi dan pertumbuhan ekonomi,” katanya.(*)







Komentar