VoxLampung.com, Bandar Lampung — Inflasi di Provinsi Lampung pada April 2026 tercatat tetap terkendali, meski mengalami kenaikan secara bulanan. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi mencapai 0,55 persen (month to month/mtm), meningkat dibandingkan Maret 2026 sebesar 0,19 persen (mtm).
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung, Achmad P. Subarkah, mengatakan realisasi tersebut juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata inflasi April dalam tiga tahun terakhir yang sebesar 0,44 persen (mtm). Sementara itu, secara tahunan, inflasi Lampung tercatat 0,53 persen (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,42 persen (yoy).
“Kondisi ini menunjukkan inflasi di Lampung masih relatif terjaga,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Dari sisi penyumbang, inflasi April 2026 terutama didorong oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas utama yang memberi andil antara lain minyak goreng sebesar 0,09 persen, ikan nila 0,04 persen, sigaret kretek mesin 0,03 persen, beras 0,03 persen, dan cabai merah 0,03 persen (mtm).
Kenaikan harga minyak goreng dipicu meningkatnya biaya input produksi kemasan, seiring lonjakan harga plastik akibat konflik di Timur Tengah. Sementara itu, harga ikan nila naik karena peningkatan permintaan di tengah cuaca yang tidak menentu.
Adapun kenaikan harga beras dan cabai merah dipengaruhi berakhirnya masa panen raya serta terbatasnya tambahan produksi akibat penundaan masa tanam karena kondisi cuaca yang kurang kondusif. Untuk komoditas sigaret kretek mesin, kenaikan harga dipicu meningkatnya harga tembakau dan penyesuaian biaya distribusi seiring kenaikan tarif Jalan Tol Bakauheni–Terbanggi Besar.
Di sisi lain, laju inflasi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas, terutama pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta perawatan pribadi dan jasa lainnya. Cabai rawit dan daging ayam ras masing-masing memberikan andil deflasi sebesar -0,06 persen dan -0,02 persen (mtm).
Penurunan harga tersebut didukung oleh terjaganya pasokan seiring peningkatan produksi di sentra lokal, seperti Kabupaten Pringsewu dan Lampung Tengah, serta normalisasi permintaan pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 2026.
Selain itu, penurunan harga emas dunia turut mendorong turunnya harga emas perhiasan dengan andil sebesar -0,03 persen (mtm).
Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan inflasi Lampung tetap berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen (yoy) pada akhir 2026. Meski demikian, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai.
Dari sisi inflasi inti, risiko berasal dari peningkatan permintaan agregat seiring implementasi kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2025 sebesar 5,35 persen yang direalisasikan bertahap sepanjang 2026, serta potensi kenaikan harga emas dunia di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Sementara itu, dari sisi inflasi bahan makanan bergejolak, risiko dipengaruhi rendahnya realisasi tanam pada Maret 2026 akibat curah hujan tinggi yang berpotensi menekan hasil panen pada triwulan II. Selain itu, prakiraan curah hujan yang rendah pada April–September dan potensi El Nino lemah pada semester II juga berisiko menekan produksi tanaman pangan dan hortikultura.
Dari sisi harga yang diatur pemerintah, risiko berasal dari potensi kenaikan harga BBM akibat gejolak harga minyak dunia, serta dampak lanjutan kenaikan tarif Tol Bakauheni–Terbanggi Besar terhadap tarif transportasi antarkota dan harga rokok.
Menanggapi perkembangan tersebut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung terus memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Upaya yang dilakukan antara lain operasi pasar beras secara terarah, penguatan monitoring harga dan pasokan komoditas strategis, perluasan Toko Pengendalian Inflasi, peningkatan kerja sama antar daerah, hingga optimalisasi distribusi melalui dukungan subsidi ongkos angkut dan perbaikan infrastruktur.
Selain itu, komunikasi publik juga terus diperkuat untuk menjaga ekspektasi inflasi, termasuk melalui pemanfaatan media digital dan penguatan sistem informasi neraca pangan.
Dengan langkah tersebut, stabilitas harga di Lampung diharapkan tetap terjaga di tengah dinamika global dan domestik.(Rls)







Komentar