VoxLampung.com, Bandar Lampung – Bagi sebagian orang, Hari Raya Idulfitri adalah momen paling dinanti untuk berkumpul bersama keluarga. Namun bagi Jumadi, petugas pemasyarakatan yang kini menjabat sebagai Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Narkotika Bandar Lampung, momen tersebut justru sering dilewati di balik tembok penjara.
Selama lebih dari dua dekade mengabdi di dunia pemasyarakatan, ada satu hal yang belum pernah ia rasakan.
“Selama 26 tahun saya jadi pegawai lapas, saya belum pernah salat Id di rumah bersama orang tua,” ujar Jumadi kepada VoxLampung.com, di Lapas Narkotika Bandar Lampung, Jumat pagi, 13 Maret 2026.
Jumadi bilang, setiap Idulfitri selalu bertugas di lapas. Jika pun ingin pulang kampung, biasanya baru bisa dilakukan setelah seluruh tugas selesai.
“Kalau berkunjung ke orang tua biasanya setelah tugas selesai. Habis Lebaran baru bisa pulang,” katanya.
Mengabdi Sejak Tahun 2000
Jumadi lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 6 Juni 1975. Ia merupakan lulusan Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP) angkatan 1999. Kariernya sebagai petugas pemasyarakatan dimulai pada tahun 2000 dengan penempatan pertama di Lampung.
“Saya lulus AKIP 99, penempatan pertama di Lampung tahun 2000. Jadi sudah sekitar 26 tahun masa kerja,” ujarnya.
Penugasan pertamanya dimulai di Lembaga Pemasyarakatan Rajabasa. Beberapa tahun kemudian ia berpindah tugas ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Bandar Lampung.
Sejak saat itu, kariernya terus berputar di berbagai daerah dan unit pemasyarakatan. Pada 2013, ia dipercaya memimpin Rutan Muara Dua sebagai kepala unit pelaksana teknis (UPT) untuk pertama kalinya.
“2013 itu saya jadi kepala UPT pertama, Kepala Rutan Muara Dua,” katanya.
Pengalaman tugasnya tidak hanya di Lampung. Ia juga pernah bertugas di wilayah Jawa, termasuk Cilacap dan Nusakambangan. Bahkan, Jumadi pernah merasakan penugasan jauh dari keluarga ketika dipercaya menjabat sebagai Kalapas Manokwari di Papua.
“Di Papua saya jadi Kalapas Manokwari sekitar satu tahun empat bulan,” ungkapnya.
Setelah itu, ia kembali ke Lampung dan sempat menjabat sebagai Kalapas Way Kanan sebelum akhirnya dilantik sebagai Kalapas Narkotika Bandar Lampung pada Oktober 2025.
Suka Duka Petugas Pemasyarakatan
Menurut Jumadi, bekerja di lingkungan pemasyarakatan memiliki tantangan tersendiri. Tidak hanya soal keamanan, tetapi juga bagaimana membina warga binaan agar dapat kembali ke masyarakat dengan lebih baik.
Ia menyebut, salah satu sisi berat profesi ini adalah pengorbanan waktu bersama keluarga, terutama saat hari besar keagamaan.
“Dukanya ya itu, menjelang Idulfitri tidak bisa seperti pegawai negeri lainnya. Kita tetap bertugas,” katanya.
Namun di balik itu, ada pula sisi yang membuatnya merasa pekerjaan tersebut bermakna. Salah satunya adalah hubungan yang terjalin dengan para warga binaan.
“Senangnya, kita punya banyak teman. Warga binaan itu kan datang dari berbagai daerah. Setelah mereka bebas, kadang kita ketemu lagi di pasar atau di tempat lain,” ujarnya.
Hubungan tersebut, kata dia, kerap terjalin dengan baik bahkan setelah mereka kembali ke masyarakat.
“Alhamdulillah, setelah mereka keluar hubungan silaturahmi tetap baik. Tidak ada yang menyimpan dendam,” kata dia.
Pendekatan Budaya dalam Pembinaan
Selama bertugas di berbagai daerah, Jumadi memiliki pendekatan tersendiri dalam membina warga binaan maupun memimpin petugas lapas. Salah satunya dengan memahami budaya lokal di tempat ia bertugas.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar komunikasi dan pembinaan dapat berjalan lebih efektif.
“Kita dulu di akademi belajar antropologi budaya. Jadi ada istilah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung,” ujarnya.
Ia mencontohkan ketika bertugas di Lampung, dirinya berusaha memahami budaya dan adat setempat. Begitu pula saat bertugas di Papua maupun Jawa.
“Kalau di Lampung ya kita mengikuti kultur Lampung. Kalau di Papua ya kita harus memahami karakter masyarakat Papua,” katanya.
Pendekatan itu, menurut dia, membuat hubungan antara petugas dan warga binaan menjadi lebih cair, tanpa menghilangkan ketegasan dalam penegakan aturan.
“Terlalu arogan juga tidak boleh, terlalu lemah juga tidak bisa. Kita harus bisa menempatkan diri,” ujar Jumadi.
Ia menegaskan, ketegasan tetap diperlukan, terutama dalam memberantas peredaran narkoba di dalam lapas.
“Kalau soal narkoba ya harus tegas, harus dibabat habis,” katanya.
Ramadan sebagai Bulan Pendidikan Diri
Bagi Jumadi, bulan Ramadan memiliki makna yang sangat dalam, terutama bagi seorang petugas pemasyarakatan yang setiap hari berhadapan dengan berbagai karakter manusia.
Menurutnya, Ramadan adalah momentum untuk melatih pengendalian diri.
“Ramadan itu bulan pendidikan. Kita berlatih mengendalikan diri,” ujarnya.
Ia menilai, perjuangan terbesar manusia sebenarnya bukan melawan orang lain, melainkan melawan hawa nafsu sendiri.
“Perang kita itu bukan melawan musuh yang kelihatan, tapi melawan hawa nafsu kita sendiri,” kata Jumadi.
Kini, di usia 50 tahun, ia masih terus mengembangkan diri. Selain menjalankan tugas sebagai Kalapas Narkotika, Jumadi juga tengah menempuh pendidikan doktoral.
“Saya sekarang baru semester dua. Mohon doanya supaya tahun depan bisa selesai,” ujarnya.
Lebih dari dua dekade mengabdi di balik jeruji, bagi Jumadi, tugasnya sebagai petugas pemasyarakatan bukan sekadar pekerjaan. Ia melihatnya sebagai bentuk pengabdian, mengawal proses perubahan bagi mereka yang pernah tersandung hukum agar dapat kembali menjadi bagian dari masyarakat.(*)







Komentar