VoxLampung.com, Jakarta — Pada 22 hingga 24 Juli 2025, Jakarta menjadi titik temu strategis bagi jurnalis, pemimpin media, pembuat kebijakan, akademisi, masyarakat sipil, hingga pelaku teknologi dari 13 negara dalam konferensi CTRL+J Asia Pasifik (CTRL+J APAC) 2025. Forum ini menjadi ruang rembuk yang inklusif dan kritis untuk membahas masa depan jurnalisme di tengah laju kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan disrupsi digital yang kian cepat.
Diselenggarakan oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan International Fund for Public Interest Media (IFPIM), CTRL+J APAC merupakan bagian dari rangkaian dialog lintas benua Global South. Konferensi ini digelar setelah CTRL+J Amerika Latin (LATAM) dan menjelang CTRL+J Afrika (AFRICA).
Pemilihan Jakarta sebagai lokasi konferensi menegaskan sikap bahwa wilayah Global South—yang kerap menjadi pihak paling terdampak oleh perubahan teknologi—tidak boleh hanya menjadi penonton, melainkan turut memegang kendali dalam menentukan arah masa depan jurnalisme global.
Selama tiga hari, sebanyak 128 peserta dan 39 pembicara membedah berbagai persoalan mendasar yang dihadapi media independen dan praktik jurnalisme saat ini. Isu yang dibahas mencakup penurunan trafik akibat fenomena zero-click search, ketika audiens mengakses ringkasan informasi dari mesin pencari atau sistem AI tanpa membuka situs media asal, hingga praktik pengambilan konten jurnalistik oleh teknologi AI tanpa kompensasi yang adil.
Selain itu, forum ini juga menyoroti ketimpangan relasi kuasa antara media dengan platform digital raksasa. Di tengah tantangan tersebut, CTRL+J APAC 2025 menjadi ruang berpikir jangka panjang untuk merumuskan peluang baru, seperti pengembangan model Business-to-AI-to-Consumer (B2A2C), penguatan kedaulatan data dan teknologi, serta dorongan regulasi yang lebih adil bagi karya jurnalistik.
Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika, menegaskan bahwa konferensi ini menunjukkan kemampuan Global South untuk memimpin dengan visi dan keteguhan nilai.
“Jurnalisme adalah kepentingan publik. Di era AI, kita perlu berjalan bersama lintas sektor dan lintas negara agar ekosistem informasi tetap mandiri, berkelanjutan, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Seluruh gagasan, pembelajaran, dan arah tindak lanjut dari konferensi ini dirangkum dalam Laporan Konferensi CTRL+J APAC 2025. Laporan tersebut diharapkan menjadi pegangan bersama sekaligus peta jalan bagi media, pembuat kebijakan, dan publik dalam menjaga jurnalisme tetap berakar pada kepentingan publik di era kecerdasan buatan.
Laporan lengkap CTRL+J APAC 2025 dapat diakses publik melalui bit.ly/ctrljid (versi Bahasa Indonesia) dan bit.ly/ctrljen (versi bahasa Inggris).(Rls)





Komentar