oleh

Ponpes Riyadhus Sholihin Berbahagia: Santri Yatim Penghafal Qur’an Raih Gelar Sarjana

VoxLampung.com, Bandar Lampung  — Suasana haru perlahan memenuhi Pondok Pesantren Riyadhus Sholihin Nur Rahman pada Rabu, 10 Desember 2025. Di antara ratusan santri yang setiap hari akrab dengan lantunan ayat suci, sebuah kabar membuncah: salah satu santri mereka, Mahfudz Tegar Maulana, berhasil meraih gelar sarjana. Kabar itu bukan sekadar capaian akademik, tetapi menjadi momen penuh makna yang membawa kebahagiaan tersendiri bagi keluarga besar ponpes.

Ketua Ponpes, Umi Hj. Fatmah Sungkar, M.Pd., menyampaikan kebanggaannya dengan suara yang sarat haru. Melalui pesan singkat, ia berbagi refleksi yang menghangatkan hati—sebuah pesan yang tidak hanya ditujukan untuk sang santri, tetapi untuk seluruh keluarga besar Riyadhus Sholihin.

Alhamdulillah, hari ini Allah mengizinkan kami menyaksikan satu santri anakku meraih gelar sarjana,” tuturnya. “Ini bukan hanya pencapaian pendidikan, tetapi bukti kesabaran, doa, dan perjuangannya. Semoga ilmu yang ia bawa menjadi amal jariyah, membuka pintu-pintu kebaikan, dan menjadi bekal untuk dunia dan akhiratnya.”

Dalam ungkapan itu, tersirat jelas kebanggaan seorang ibu asuh yang melihat perjuangan panjang anak didiknya berbuah manis. Di balik setiap hafalan, setiap sujud, setiap malam panjang yang dipenuhi cahaya ilmu, tersimpan harapan sederhana: agar ilmu itu tumbuh menjadi pahala yang tak pernah berhenti mengalir.

Fatmah kemudian mengingatkan tentang tiga amalan yang menjadi pegangan hidupnya—sesuatu yang selalu ia tanamkan pada para santri sebagai bekal perjalanan mereka kelak.

“Tiga amal yang tak pernah putus meski kita telah tiada: sedekah jariyah, ilmu yang terus mengalirkan manfaat, dan doa anak-anak shalih yang kita tinggalkan,” ungkapnya lembut, merujuk pada hadis riwayat Muslim.

Bagi Fatmah, ketiga amalan itu bukan sekadar ajaran agama, tetapi fondasi yang menjaga langkah setiap santri di pondok. Sementara nama Abah Hi. Ismail Zulkarnain, almarhum pendiri ponpes, terus disebut dalam tiap lantunan doa, semangat perjuangannya hidup dalam setiap keberhasilan yang lahir dari tempat itu.

Di penghujung pesan, Fatmah menyampaikan salam rindu dan sayangnya bagi seluruh santri—anak-anak yatim penghafal Al-Qur’an yang menjadi denyut kehidupan Ponpes Riyadhus Sholihin. Di tengah kesederhanaan, cinta dan doa selalu menjadi bahasa yang mengikat mereka.

Keberhasilan seorang santri hari itu menjadi bukti bahwa pendidikan, doa, dan kasih sayang mampu melahirkan generasi yang membawa cahaya. Dan di ponpes kecil itu, cahaya itu terasa semakin terang.(*)

Komentar