oleh

Mengenang KH Ismail Zulkarnain: “Abah” yang Mengangkat Derajat Anak Yatim

VoxLampung, Bandar Lampung — Sabtu malam, 28 Juni 2025, langit di atas Bandar Lampung tampak teduh, seolah ikut bersedih melepas kepergian seorang sosok yang telah mendedikasikan hidupnya untuk kaum yang sering dilupakan: anak-anak yatim piatu dan dhuafa.

KH Ismail Zulkarnain, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Riyadhus Sholihin Bandar Lampung, berpulang ke rahmatullah dalam usia yang matang dan penuh makna. Ribuan santri, masyarakat, sahabat, dan tokoh daerah berkumpul di pondok yang ia bangun sejak 2005, tak sekadar mengantar kepergian seorang ulama, tapi melepas “abah” yang selama ini menjadi ayah kedua bagi ratusan anak yang kehilangan sandaran hidup.

“Aku Pernah Jadi Mereka…”

Tak banyak yang tahu, sebelum menjadi seorang kiai, Ismail Zulkarnain pernah melewati jalan hidup yang keras. Ia menapaki lorong-lorong gelap kehidupan, sebelum akhirnya disadarkan dan memilih jalan dakwah.

“Aku tahu rasanya lapar, aku tahu rasanya dipinggirkan. Itu sebabnya aku bangun pesantren ini, agar anak-anak itu tidak harus merasa seperti yang pernah aku rasakan,” ucapnya dalam sebuah wawancara beberapa tahun lalu.

Dengan hati yang lapang, ia merangkul anak-anak yatim dan dhuafa, tak hanya memberi tempat tinggal dan pendidikan, tapi juga harga diri. “Kita ajarkan mereka menghafal Qur’an, agar mereka tak hanya selamat di dunia, tapi juga di akhirat. Kita bangunkan sekolah, agar mereka bisa bangkit dan mandiri,” tutur almarhum suatu waktu.

Fasilitas Layak, Bukan Sekadar Bertahan Hidup

Di bawah asuhan beliau, Ponpes Riyadhus Sholihin tak hanya menyediakan tempat tidur dan makan seadanya. KH Ismail membangun asrama yang nyaman dan bersih, fasilitas MCK modern, bahkan ruang belajar ber-AC untuk para santri tahfiz.

“Kalau anak orang kaya bisa sekolah di tempat bagus, kenapa anak yatim harus di tempat sempit dan kumuh? Mereka juga pantas dimuliakan,” begitu prinsip beliau.

Santri-santri diasramakan secara gratis dan disekolahkan ke lembaga formal yang ditanggung penuh oleh pesantren — dari SD, SMP, hingga SMK. Bahkan, untuk santri berprestasi, ia carikan beasiswa hingga perguruan tinggi.

Baca Juga: Wisuda 35 Santri, Ponpes Riyadhus Sholihin Ingin Anak Yatim Visioner dan Punya Kehormatan

Sekolah Gratis Lima Lantai: Warisan Nyata

Di ujung masa hidupnya, KH Ismail tengah memimpin pembangunan gedung sekolah lima lantai di dalam kompleks pesantren. Bangunan megah itu bukan untuk bisnis, tapi semata-mata untuk memberi ruang belajar gratis bagi ratusan anak-anak kurang mampu.

“Beliau tidak sekadar mendirikan bangunan, tapi membangun harapan,” kata Ustaz Syahrul, salah satu pengajar. “Setiap anak yang datang, beliau sambut dengan senyum dan doa.”

Gedung ini bukan proyek biasa. Ia menyebutnya “wakaf ilmu untuk masa depan”. Biaya pembangunan mencapai hampir Rp 20 miliar, sebagian besar dihimpun dari donatur dan umat. Tapi lebih dari uang, KH Ismail menyentuh hati orang-orang dengan ketulusan.

Pendidikan di sekolah ini gratis, berkualitas, dan didesain agar anak-anak yatim bisa mendapatkan ijazah formal tanpa mengorbankan hafalan Al-Qur’an mereka.

“Beliau selalu bilang, ‘Kalau tidak bisa wariskan harta, wariskan ilmu dan harga diri,’” kenang salah satu pengurus.

Baca Juga: Ponpes Riyadhus Sholihin Mulai Pembangunan Gedung Sekolah 5 Lantai untuk Yatim-Dhuafa

RSMart: Mandiri Lewat Ekonomi Pesantren

Dalam visinya, pendidikan tak cukup hanya lewat kitab dan bangku belajar. Karena itu, ia merintis RSMart, sebuah unit usaha pesantren yang menjual kebutuhan pokok dan produk santri.

RSMart bukan sekadar warung. Itu adalah pusat pelatihan ekonomi mandiri bagi santri dan sumber pemasukan halal untuk kebutuhan pondok. Di sana, para santri belajar mengelola stok, melayani pelanggan, hingga mencatat laporan keuangan sederhana.

“Abah ingin agar anak-anak ini tidak hanya pintar mengaji, tapi juga bisa berdiri di atas kaki sendiri secara ekonomi,” ujar pengurus pesantren.

Dengan adanya RSMart, KH Ismail membuka jalan agar pesantren tak semata mengandalkan donasi, tapi bisa perlahan mandiri. Sebagian keuntungan dialokasikan untuk operasional anak-anak yatim.

Baca Juga: Ponpes Riyadhus Sholihin Resmikan RS Mart: Minimarket untuk Kemandirian Ekonomi Santri Yatim

Pemimpin yang Merangkul, Bukan Menggurui

Sebagai Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Bandar Lampung selama dua periode, kepemimpinannya dikenal egaliter dan penuh kasih. Ia biasa duduk sejajar dengan santri, wartawan, TNI, Polri, atau bahkan buruh kasar yang ingin bersilaturahmi.

“Abah itu pemimpin yang tidak membuat orang merasa kecil. Siapa pun yang datang, beliau peluk,” kenang sahabatnya, Chulkufli.

Ia bahkan memimpin salat gaib dan doa bersama untuk anggota Polri yang gugur di Way Kanan, menunjukkan kepekaan sosial yang tinggi.

Amanah yang Tak Pernah Putus

KH Ismail Zulkarnain pernah berpesan menjelang akhir hayatnya:

“Kalau aku sudah nggak ada, jangan berhenti rawat anak-anak ini. Jangan berhenti. Itu amanah.”

Ia menyalurkan bantuan ke keluarga miskin, menjenguk anak sakit, membangun gedung sekolah, dan membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.

Kepergian Seorang “Ayah”

Kini pesantren itu hening. Tidak ada lagi suara beliau yang menyapa santri di pagi hari. Tidak ada lagi tawa hangat dari balik sorban putih yang selalu melambai saat menyapa tamu.

Namun warisan beliau tetap hidup — dalam setiap ayat yang dihafal santri, dalam setiap transaksi di RSMart yang menghidupi pondok, dan dalam semangat berdikari yang beliau tanamkan.

KH Ismail Zulkarnain telah tiada. Tapi semangatnya menjadi nafas bagi ribuan jiwa. Seorang mantan preman yang berubah menjadi ulama. Seorang manusia biasa yang menjelma menjadi pelita bagi yang kehilangan cahaya.

Jenazah Abah Ismail telah dimakamkan di area Ponpes Riyadhus Sholihin, Jalan Dr Harun II, Gang H Agus Salim 1, Kota Baru, Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung, pada Minggu, 29/6, sekira pukul 11.00 WIB. Ribuan pelayat hadir untuk melepas kepergian sang panutan.

Selamat jalan, Abah. Doa kami akan selalu menyertai langkahmu menuju keabadian.(*)

Komentar