Oleh: Diky Hidayat
HARI itu, Sabtu pagi, 20 Agustus 2022, saya menerima banyak sekali telepon yang tidak saya angkat karena sedang menyetir kendaraan di Jakarta. Pada saat itu, saya dan rekan kolega sedang ada kegiatan.
Saya hentikan kendaraan untuk mengangkat telepon dari seorang kolega karib di Unila tempat saya mengabdi. Saat itu saya terkaget-kaget mendengar berita bahwa Prof. Karomani (Kang Aom sapaan akrab beliau) ditangkap oleh KPK di Bandung, dengan beberapa para pimpinan Unila lainnya.
Saya kenal beliau cukup lama sejak tahun 2010, saat beliau menjabat Kepala UPT PP. Waktu itu beliau menjadi mentor kami para dosen muda mengikuti pelatihan Pekerti.
Seiring waktu, kedekatan kami terus makin akrab karena kami sama-sama berada di komunitas NU. Kemudian saat beliau menjadi WR III pun kami para dosen junior sering dilibatkan dalam proses pembinaan dan pengembangan minat dan bakat mahasiswa.
Yang saya ingat dan fenomenal adalah ketika beliau “menghidupkan kembali” IKA Unila yang beberapa periode mati suri. Beliau dengan gesit memfasilitasi para alumni yang berada di kepengurusan IKA Unila dan beberapa alumni yang sudah sukses untuk kembali mengaktifkan IKA Unila.
Beliaulah yang menginisiasi Jaksa
Agung menjadi ketua IKA Unila pusat. Kang Aom, ini walaupun bukan alumni Unila, tapi memiliki keinginan kuat untuk memajukan Unila. Beberapa kali kami para dosen muda diajak beliau diskusi untuk mencari cara memajukan Unila, baik di kancah nasional maupun internasional.
Semangat beliau yang kuat untuk memajukan Unila akhirnya dikristalisasi dengan keberanian beliau maju sebagai calon Rektor Unila periode 2019-2023. Saat itu saya tahu pasti bahwa kang Aom bukan calon yang diunggulkan, bahkan cenderung diremehkan oleh para kandidat lain. Tapi kekuatan tekad, semangat, keberanian dan ketegasannya mampu membalikkan itu semua.
Akhirnya ia terpilih menjadi Rektor Unila periode 2019-2023. Saat-saat awal kang Aom menjadi rektor masih banyak yang tidak yakin ia mampu mengangkat prestasi Unila. Bahkan beberapa pihak mencemooh beliau. Namun apa yang terjadi, beliau mampu membuktikan dan melakukan lompatan-lompatan untuk meningkatkan prestasi Unila di tingkat nasional maupun internasional.
Banyak capaian beliau dalam waktu kurang dari tiga tahun menjabat. Hal ini terbukti, dalam waktu singkat Unila yang tahun 2019 berada di peringkat 46 di Indonesia, hanya butuh satu tahun masuk di peringkat 13.
Demikian pula tahun berikutnya dalam pemeringkatan global webometrik, Unila masuk 10 besar dan masuk peringkat 14 besar dalam time higher education (THE) dari seluruh PTN di Indonesia.
Beliau juga memiliki program unggulan percepatan Guru Besar. Hasilnya, tahun 2021 Unila mencatatkan dua rekor MURI sebagai penghasil Guru Besar dan pengukuhan terbanyak dalam satu tahun dalam sejarah perguruan tinggi di Indonesia.
Sebelummya tahun 2018, Unila hanya mampu menambah satu orang guru besar per tahun. Namun di era kepemimpinanya naik dua ribu persen menjadi 20 orang tahun 2022. Majalah Tempo tahun lalu menyebut baru pertama kali dalam sejarah pendidikan tinggi di Indonesia hal itu terjadi.
Tentu banyak lagi prestasi beliau memimpin unila seperti menggoalkan Loan ADB Rp600 miliar untuk pembangunan RSPTN Unila setelah hampir 15 tahun mangrak. Membangun ulang Masjid Alwasii setelah hampir 40 tahun tak tersentuh.
Meneruskan pembangunan gedung-gedung yang mangkrak. Menaikkan hampir Rp75 miliar pendapatan Unila per tahun meskipun di era Covid-19. Karena itu, di era beliaulah gaji remun dan insentif dosen dan tendik naik lebih 20 persen.
Gedung-gedung mangkrak dan penguatan infrastruktur, IT, dan lain-lain, dibangun masiv. Rektor karomani juga berani mengambil terobosan meskipun penuh risiko.
Beliau nekad memberhentikan puluhan pegawai honorer yang tak berprestasi, membalik nama YP Unila menjadi aset Unila, menyurati dan mengambil alih tanah perumahan dosen di belakang BNI. Beliau sudah proses suratnya ke kementerian dengan koordinasi tembusan ke KPK dan Ombudsman.
Membubarkan Koperasi Unila yang koruptif, mengangkat dan memberi jabatan fungsional 48 dosen FK yang dari rumah sakit setelah hamoir 20 tahun nasib mereka tak jelas.
Selain berani, beliau juga kreatif membentuk forum rektor FRPKB, membuka Prodi Bahasa Lampung, mendirikan dua rumah adat Lampung di kampus, menginisiasi pembuatan film Radin Intan, memberi kesempatan bea siswa pada anak-anak Jabung kuliah di
Unila.
Memberi kuota untuk masuk Fakultas Kedokteran untuk semua kabupaten kota di Provinsi Lampung. Meletakkan masterplan pembangunan hotel yang terintegrasi dengan mall dan apartemen dan masih banyak lagi pencapaian Unila saat beliau pimpin.
Sampai-sampai beberapa kolega dan rekan sejawat dari perguruan tinggi lain menyebut Unila seperti “kereta cepat” yang sedang kencang-kencangnya. Namun sayang semua hal baik, prestasi, torehan emas yang beliau perbuat seperti tak berarti, hancur sekejap. Namun saya yakin beliau memahami dan menyadari bahwa ini risiko bagi seorang pemimpin.
Kang Aom lahir di kota kecil Menes Banten dan tumbuh besar di komunitas NU, dan ini menjadi nafas, darah dan daging beliau, semangat ke-NU-an beliau tinggi sekali, yang terbukti selama perjalan karir dan hidupnya.
Setelah menamatkan pendidikan Diniyah dan SMP di kampungnya, beliau melanjutkan pendidikan di Sekolah Pendikan Guru Negeri di Pandeglang dan kuliah di IKIP Bandung tahun 1982. Sangat jelas dia berdarah pendidik dari awal.
Memulai karir sebagai dosen di Universitas Jambi tahun 1988 dan mutasi ke Universitas Lampung tahun 2000. Alumni S2 dan S3 Prodi Komunikasi Unpad ini karir akademik dan kepempimpinannya di kampus termasuk moncer.
Tahun 2015 ia menjadi guru besar dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan kemudian tahun 2019 November menjadi rektor.
Karomani ditangkap KPK tak lama setelah melakukan MoU dengan Rektor University of Centucky di Lexington Amerika dan pertemuan antar perguruan tinggi di Paris
Prancis.
“Kita harus konsisten mulai dari pikiran, perkataan hingga perbuatan. Jangan tersanjung karena pujian, jangan tersakiti karena cacian. Jalani saja mas sepanjang yang kita lakukan benar untuk kemaslahatan umat. Gedung LNC yang berlantai tiga ini akan kita serahkan ke NU kota dan PERGUNU,” demikian ucapan dia ketika ngobrol di gedung LNC lima bulan lalu.
Itu obrolan santai kami beberapa waktu sebelum peresmian Gedung LNC. Kini, gedung tersebut disita KPK dan terancam mangkrak. Ternyata tidak hanya saya yang turut prihatin, namun beberapa rekan kolega lain juga merasakan hal yang sama dan sempat dicurahkan ke saya.
“Sungguh kejadian yang mengagetkan buat saya mas. Pak Karomani itu kehidupan sehari-harinya apalagi istrinya
amat bersahaja. Mungkin satu-satunya rektor di Indonesia yang tak punya pembantu di rumahnya adalah dia. Istrinya jangankan punya kartu kredit, kartu ATM pun tak punya,”
“Beliau tinggal di gang depan rel kereta api di Kelurahan Kedaton. Karena itu pula ada seorang Kiai menasihatinya agar tak menyulitkan para tamu yang datang, disarankan membuat rumah yang lokasinya mudah dikunjungi,”
“Dia membuat rumah di Jalan Komarudin Rajabasa yang katanya mewah itu. Padahal rumah lantai dua itu ukuran depannya saja hanya delapan meteran. Pagarnya memang tinggi. Dibuat lantai dua untuk mengirit lahan agar para tamu leluasa parkir. Saya kira wajar sebagai mantan WR III, profesor, dan rektor, beliau punya rumah seperti itu dan itu pun beliau buat sendiri, cari bahan dan tukangnya langsung beliau dibantu beberapa teman,”
“Perilaku dia yang tak banyak orang tahu selalu menghindari uang yang bukan haknya karena dia amat takut dengan hisab di akhirat. Jadi buat saya tak aneh meski KPK menemukan uang di rumahnya dia tak bakal menggunakannya kalo itu bukan haknya. Saya dengar untuk menyelesaikan rumahnya dia malah pinjam Rp500 juta dari BNI dan sampai sekarang kabarnya masih punya hutang bahan bangunan,”
“Uang sisa bangunan LNC yang miliaran disita KPK itu saya dengar untuk bantu modal bergulir para pedagang kecil yang terjerat rentenir. Dia amat mencintai NU dan saat ini dia berkorban akibat terlalu mencintai Ormas itu. Dia memang aktivis tulen di beberapa organisasi dia masuk baik sebagai ketua maupun anggota biasa,”
“Jiwa sosialnya untuk umat tinggi. Saat ditangkap KPK dia pun sedang mengurusi pembagunan
masjid yaitu di kampung halamannya dan di Unila. Saya tidak yakin dengan berita yang beredar bahwa dia menerima suap,”
“Dia sering menasehati saya suap itu ada hadistnya laknatullah rossy wal murtasy (laknat Allah bagi penyuap dan yang disuap). Karena itu, saya yakin dia menerima infaq bukan suap. Hanya karena beliau Rektor mestinya hal itu dilaporkan ke KPK. Dia abai, sama ketika Gus Dur menerima zakat dari Sultan Brunai langsung dibagikan dan ramai dianggap melanggar karena Gus Dur sebagai presiden waktu itu,” demikian testimoni salah seorang teman dekatnya, Dosen FISIP Unila yang sama-sama berasal dari Banten.
Terus semangat Kang Aom, jaga kesehatan. Ini bagian jalan hidup yang harus dilalui. Tetaplah dengan keyakinan terus berbuat baik dan kebaikan.(*)
Penulis, Diky Hidayat, S.Si., M.Si, merupakan Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung. Diky juga menjabat Kepala UPT Pengembangan Karir dan Kewirausahaan Unila.





Komentar